Pristiasari’s Blog

Just another WordPress.com weblog

MANAJEMEN

1. Pengertian manajenen

Manajemen berasal dari kata “to manage” yang berarti mengatur, mengurus atau mengelola. Banyak definisi yang telah diberikan oleh para ahli terhadap istilah manajemen ini. Namun dari sekian banyak definisi tersebut ada satu yang kiranya dapat dijadikan pegangan dalam memahami manajemen tersebut, yaitu : Manajemen adalah suatu proses yang terdiri dari rangkaian kegiatan, seperti perencanaan, pengorganisasian, penggerakandan pengendalian/pengawasan, yang dilakukan untuk menetukan dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumberdaya manusia dan sumberdaya lainnya.

Sedangkan pengertian menurut ahli-ahli yang lain adalah sebagai berikut :

1. Menurut Horold Koontz dan Cyril O’donnel :

   Manajemen adalah usaha untuk mencapai suatu tujuan tertentu melalui kegiatan orang lain. 

2. Menurut R. Terry :

   Manajemen merupakan suatu proses khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan,

   pengorganisasian, penggerakan dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai

   sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumberdaya manusia dan sumberdaya lainnya.

3. Menurut James A.F. Stoner :

   Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian dan penggunakan sumberdaya organisasi

   lainnya agar mencapai tujuan organisasi tang telah ditetapkan.

4. Menurut Lawrence A. Appley :

   Manajemen adalah seni pencapaian tujuan yang dilakukan melalui usaha orang lain.

5. Menurut Drs. Oey Liang Lee :

   Manajemen adalah seni dan ilmu perencanaan pengorganisasian, penyusunan, pengarahan dan

   pengawasan daripada sumberdaya manusia untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

 

2. Teori-Teori pemikiran Manajemen

A. Teori Manajemen Ilmiah / Klasik

    Variabel yang diperhatikan dalam manajemen ilmiah :

    1. Pentingnya peran manajer

    2. Pemanfaatan dan pengangkatan tenaga kerja

    3. Tanggung jawab kesejahteraan karyawan

    4. Iklim kondusif

    Manajemen ilmiah memperhatikan prinsip-prinsip pembagian kerja.

    A.1. Robert Owen (1771 – 1858)

          Menekankan tentang peranan sumberdaya manusia sebagai kunci keberhasilan perusahaan.

          Dilatar-belakangi oleh kondisi dan persyaratan kerja yang tidak memadai, dimana kondisi kerja

          sebelumnya dan kehidupan pekerja pada masa itu sangat buruk.

    A.2. Charles Babbage (1792 – 1871)

          Menganjurkan untuk mengadakan pembagian tenaga kerja dalam kaitannya dengan pembagian

          pekerjaan. Sehingga setiap ekerja dapat dididik dalam suatu keterampilan khusus. Setiap

          pekerja hanya dituntut tanggungjawab khusus sesuai dengan spesialisasinya.

    A.3. Frederick W. Taylor :

          Merupakan titik tolak penerapan manajemen secara ilmiah hasil penelitian tentang studi waktu

          kerja (time & motion studies). Dengan penekanan waktu penyelesaian pekerjaan dapat

          dikorelasikan dengan upah yang diterima. Metode ini disebut sistem upah differensial.

    A.4. Hennry L. Gantt (1861 – 1919) :

          Gagasannya mempunyai kesamaan dengan gagasan Taylor, yaitu :

          1. Kerjasama saling menguntungkan antara manajer dan karyawan.

          2. Mengenal metode seleksi yang tepat.

          3. Sistem bonus dan instruksi.

          Akan tetapi Hennry menolak sistem upah differensial. Karena hanya berdampak kecil terhadap

          motivasi kerja.

     A.5. Frank B dan Lillian M. Gilbreth (1868 – 1924 dan 1878 – 1972) :

          Berdasarkan pada gagasan hasil penelitian tentang hubungan gerakan dan kelelahan dalam

          pekerjaan. Menurut Frank, antara gerakan dan kelelahan saling berkaitan. Setiap gerakan

          yang dihilangkan juga menimbulkan kelelahan. Menurut Lillian, dalam pengaturan untuk

          mencapai gerakan yang efektif dapat mengurangi kelelahan.

     A.6. Herrrington Emerson (1853 – 1931) :

          Berpendapat bahwa penyakit yang mengganggu sistem manajemen dalam industri adalah

          adanya pemborosan dan inefisinesi. Oleh karena itu ia menganjurkan :

          1. Tujuan jelas

          2. Kegiatan logis

          3. Staf memadai

          4. Disiplin kerja

          5. Balas jasa yang adil

          6. Laporan terpecaya

          7. Urutan instruksi

          8. Standar kegiatan

          9. Kondisi standar

          10. Operasi standar

          11. Instruksi standar

          12. Balas jasa insentif

 

B. Teori Organisasi Klasik

    B.1. Fayol (1841 – 1925) :

           Teori organisasi klasik mengklasifikasikan tugas manajemen yang terdiri atas :

           1. Technical ; kegiatan memproduksi produk dan mengoranisirnya.

           2. Commercial ; kegiatan membeli bahan dan menjual produk.

           3. Financial ; kegiatan pembelanjaan.

           4. Security ; kegiatan menjaga keamanan.

           5. Accountancy ; kegiatan akuntansi

           6. Managerial ; melaksanakan fungsi manajemen yang terdiri atas :

                                – Planning ; kegiatan perencanaan<>

                                – Organizing ; kegiatan mengorganiisasikaan

                                – Coordinating ; kegiatan pengkoorrdinasiian

                                – Commanding ; kegiatan pengarahann

                                – Controlling ;  kegiatan penngawasaan

           Selain hal tersebut diatas, asas-asa umum manajemen menurut Fayol adalah :

           – Pembagian kerja

           – Asas wewenang dan tanggungjawab<>

           – Disiplin

           – Kesatuan perintah

           – Kesatuan arah

           – Asas kepentingan umum

>

           – Pemberian janji yang wajar

           – Pemusatan wewenang

           – Rantai berkala

           – Asas keteraturan

           – Asas keadilan

           – Kestabilan masa jabatan

           – Inisiatif

           – Asas kesatuan

    B.2.  James D. Mooney :

           Menurut James, kaidah yang diperlukan dalam menetapkan organisasi manajemen adalah :

           a. Koordinasi

           b. Prinsip skala

           c. Prinsip fungsional

           d. Prinsip staf

 

C. Teori Hubungan Antar Manusia (1930 – 1950)

    Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan psikologis terhadap bawahan, yaitu dengan

    mengetahui perilaku individu bawahan sebagai suatu kelompok hubungan manusiawi untuk

    menunjang tingkat produktifitas kerja.

    Sehingga ada suatu rekomendasi bagi para manajer bahwa organisasi itu adalah suatu sistem

    sosial dan harus memperhatikan kebutuhan sosial dan psikologis karyawan agar produktifitasnya

    bisa lebih tinggi.

 

D. Teori Behavioral Science :

    D.1. Abraham maslow

          Mengembangkan adanya hirarki kebutuhan dalam penjelasannya tentang perilaku manusia dan

          dinamika proses motivasi.

    D.2. Douglas Mc Gregor

           Dengan teori X dan teori Y.

    D.3. Frederich Herzberg

           Menguraikan teori motivasi higienis atau teori dua faktor.

     D.4. Robert Blake dan Jane Mouton

           Membahas lima gaya kepemimpinan dengan kondisi manajerial.

    D.5. Rensis Likert

           Menidentifikasikan dan melakukan penelitian secara intensif mengenai empat sistem

           manajemen.

     D.6. Fred Fiedler

           Menyarankan pendekatan contingency pada studi kepemimpinan.

    D.7. Chris Argyris

           Memandang organisasi sebagai sistem sosial atau sistem antar hubungan budaya.

     D.8. Edgar Schein

           Meneliti dinamika kelompok dalam organisasi.

    Teori behavioral science ditandai dengan pandangan baru mengenai perilaku orang per orang,

    perilaku kelompok sosial dan perilaku organisasi.

 

E. Teori Aliran Kuantitatif

    Memfokuskan keputusan manajemen didasarkan atas perhitungan yang dapat

    dipertanggungjawabkan keilmiahannya.

    Pendekatan ini dikenal sebagai pendekatan ilmu manajemen yang biasa dimulai dengan langkah

    sebagai berikut :

    1. Merumuskan masalah

    2. Menyusun model aritmatik

    3. Mendapatkan penyelesaikan dari model

    4. Mengkaji model dan hasil model

    5. Menetapkan pengawasan atas hasil

    6. Mengadkan implementasi

    Alat bantu yang sering digunakan dalam metode ini adalah motede statistik dan komputerisasi

    untuk melihat kemungkinan dan peluang sebaai informasi yang dibutuhkan pihak manajemen.

April 22, 2009 Posted by | Uncategorized | 6 Komentar

PERANCANGAN BASIS DATA

Database
Database (Basis Data) adalah kumpulan data (elementer) yang secara logik berkaitan dalam mempresentasikan fenomena / fakta secara terstruktur dalam domain tertentu untuk mendukung aplikasi pada sistem tertentu. Basis data adalah kumpulan data yang saling berhubungan, memberikan refleksi fakta-fakta yang terdapat di organisasi. Basis data mendeskripsikan state organisasi/perusahaan/sistem. Saat satu kejadian muncul di dunia nyata mengubah state organisasi/perusahaan/sistem, maka satu perubahan pun harus dilakukan terhadap data yang disimpan di basis data. Basis data merupakan komponen utama sistem informasi karena semua informasi untuk pengambilan keputusan berasal dari data di basis data. Pengelolaan basis data yang buruk dapat mengakibatkan ketidaktersediaan data penting yang digunakan untuk menghasilkan informasi yang diperlukan dalam pengambilan keputusan.
Metodologi Perancangan Basis Data

Metodologi perancangan basis data adalah kumpulan teknik terorganisasi untuk pembuatan rancangan basis data. Teknik terorganisasi ini merupakan kumpulan tahap-tahapan yang memiliki aturan-aturan terurut. Teknik yang digunakan pada perancangan basis data dibagi menjadi dua, yaitu:

a. Perancangan basis data tingkat logik.

b. Perancangan basis data tingkat fisik.

Perancangan basis data secara logik dimulai dengan penciptaan model konseptual dari organisasi dan seluruhnya tak bergantung rincian implementasi seperti perangkat lunak DBMS, program aplikasi, bahasa pemrograman, platform perangkat keras, dan pertimbangan fisik lainnya. Model konsep ini kemudian dipetakan menjadi model data secara logik yang telah dipengaruhi model data target basis data seperti model relasional.

Dalam perancangan basis data secara logik, kita dapat melakukannya dengan cara :

a. Menerapkan Normalisasi terhadap struktur tabel yang telah diketahui.

b. Langsung membuat model Entity-Relationship (ER).
Model data secara logik merupakan sumber informasi perancangan fisik. Model ini menyediakan perancang suatu kendaraan untuk pertimbangan dalam merancang basis data yang efisien.

Perancangan basis data secara fisik adalah proses memproduksi deskripsi implementasi basis data pada penyimpanan sekunder, mendeskripsikan struktur-struktur penyimpanan dan metode-metode pengaksesan dalam meningkatkan efektifitas pengaksesan. Pada tahap ini, perancangan fisik telah ditujukan untuk system DBMS tertentu. Perancangan basis data tingkat fisik sudah dikaitkan dengan platform dan perangkat lunak system manajemen basis data dimana basis data diimplementasikan.

Langkah-langkah Metodologi Perancangan Basis Data

Berikut adalah perancangan basis data relasional :
– Dimulai dari perancangan basis data logik untuk basis data relasional pada tahap 1 sampai dengan tahap 3.
– Perancangan dan implementasi basis data fisik untuk basis data relasional pada tahap 4 sampai dengan tahap 7.

a. Tahap 1
Membangun rancangan data konseptual lokal berdasarkan pandangan pemakai. Yaitu mengidentifikasikan himpunan entitas – himpunan entitas. Mengidentifikasikan keterhubungan-keterhubungan (relationship), mengidentifikasikan dan asosiasikan atribut-atribut pada entitas atau keterhubungan, menentukan domain atribut, menentukan atribut-atribut candidate key dan primary key, melakukan spesialisasi/generalisasi, menggambarkan diagram ER, melakukan review model data konsep dengan pemakai.

b. Tahap 2
Membangun dan validasi model data logik lokal. Yaitu memetakan model data konsep ke model data logik, melakukan turunan relasi-relasi dari model data logik, validasi model menggunakan normalisasi, validasi model berdasarkan transaksi – transaksi pemakai, menggambarkan ER nya, mendefinisikan kontsrain-konstrain (batasan-batasan) integritas, melakukan review model data logik dengan pemakai.

c. Tahap 3
Membangun dan validasi model data logik global. Yaitu menggabungkan model data logik lokal menjadi model global, validasi model data logik global, periksa untuk pertumbuhan masa datang, menggambarkan diagram ER akhir, melakukan review model logik global dengan pemakai.

d. Tahap 4
Menerjemahkan model data logik global untuk DBMS target. Yaitu merancang relasi-relasi basis untuk DBMS target, merancang aturan-aturan integritas untuk DBMS target.

e. Tahap 5
Merancang dan implementasi representasi fisik. Yaitu menganalisa transaksi-transaksi, memilih organisasi file, memilih indeks-indeks sekunder, mempertimbangkan penambahan redudansi yang terkendali, estimasikan ruang disk yang diperlukan.

f. Tahap 6
Merancang dan mengimplementasikan mekanisme pengamanan. Yaitu merancang view-view pemakai, merancang aturan-aturan pengaksesan.

g. Tahap 7
Memonitor dan menyesuaikan system yang sedang operasi.

http://www.globalkomputer.com/Bahasan/Database

April 22, 2009 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar